Lirik Lagu Sinopsis Film hjjj
Blackberry LG Mobile Nokia Samsung Sony Ericsson
Klasemen L.Italia Klasemen L.Inggris Jadwal Liga Italia Jadwal Liga Inggris Hasil Liga Champions
Resto Enak di Jakarta Resto Romantis di Jkt Hokben Delivery Bakmi GM Delivery PHD - Pizza Hut
SMS Ultah SMS Malam Minggu SMS Cinta SMS Putus Cinta SMS Imlek Kata-Kata Mutiara Cinta
Tip Facebook Daftar Twitter Tip Ponsel Tip Blog Tip UAN Tip Download

Polsek Hamparan Perak diserang, Polisi harus Waspada

Advertisement

Polsek Hamparan Perak diserang, Polisi harus Waspada - Terkait penyerangan Mapolsek Hamparan Perak, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, dinihari tadi, Kapolda Sumut Irjen Pol Oegroseno menegaskan status keamanan wilayah hukum Polda Sumut dalam kondisi waspada.

Kapolri Harus Mawas Diri! tak ada asap kalau tak ada api, Kejadian tadi malam dimana Polsek Hamparan Perak Deli Serdang Sumatera Utara diserang mengakibatkan tiga orang Polisi meninggal dunia, walaupun tidak bisa dikaitkan langsung akan tetapi jika "raja salah berucap atau melangkah" selalu pion yang menjadi korban sebagai warga negara yang cinta polisi kita semua pasti prihatin dengan kejadian penyerangan Polsek Hamparan Perak

“Mereka tidak main-main. Status saat ini sudah waspada, bukan siaga lagi,” ungkap Oegroseno kepada wartawan di Medan, Rabu (22/9/2010).

Menurut Oegroseno, pelaku melakukan serangan dengan senjata api secara serius dan membahayakan. Karena itu, dirinya sudah menginstruksikan seluruh jajarannya di Sumut untuk waspada.

Akhir-akhir ini sepak terjang Densus 88 sedikit membuat panas hati banyak pihak bisa kita lihat dari berbagai media Arogansi Densus 88 menembak mati para tersangka seenak hati, harusnya polisi membawa tersangka ke pengadilan agar bisa diadili dengan adil. Jangan sampai orang yang tidak berdosa mati tanpa peradilan yang sah. Bawa ke pengadilan. Jika terbukti bersalah, terserah apakah teroris itu dihukum mati atau dimutilasi.

Prestasi polisi menangkap teroris memang bagus. Namun harusnya tidak main tembak mati. Tapi dibawa ke pengadilan agar bukan orang yang tidak bersalah yang tertembak mati. Kan kemarin polisi Depok salah menangkap Dosen UI sebagai pelaku hingga babak belur. Untung tidak ditembak mati langsung.

Kasus salah tangkap oleh polisi sudah sering terjadi. Tempo menulis bahwa dari Februari 2009 hingga 7 Desember 2009 saja sudah 4 x polisi salah tangkap. Jose Rizal di Depok dipukuli sampai babak belur oleh polisi padahal dia tidak bersalah. Seorang bapak juga dipukuli sampai babak belur oleh polisi karena dituduh merampok padahal ternyata tidak.

Bahkan Hambali alias Kemat (26) dan Devid Eko Priyanto (17), warga Desa Kalangsemanding. Keduanya divonis 17 dan 12 tahun penjara dengan tuduhan membunuh Asrori padahal sang jagal Ryan mengaku sebagai pembunuh Asrori.

Sekali lagi teroris yang kejam memang harus dihukum mati. Di sisi lain kasus polisi salah tangkap juga sering terjadi. Jadi sebaiknya polisi jangan main tembak mati terhadap orang yang diduga teroris. Sebaliknya bawa ke pengadilan biar hakim yang memutuskan apakah dia bersalah atau tidak.

Detasemen Khusus (Densus) 88 Anti-Teror Polri menyergap kelompok yang diduga teroris di Tanjung Balai Medan dan Lampung, Minggu 19 September 2010, patut diberi apresiasi tinggi.

Syaratnya, Densus bisa menyodorkan alat bukti sahih atas dugaan terorisme terhadap ke-18 tersangka yang tertangkap hidup, maupun tiga orang yang tewas ditembak. Apabila kelak, bisa dibuktikan penyidik dalam sidang kasus terorisme, siapa pun wajib memberi penghargaan tinggi.

Bagaimana Densus 88 menjalankan tugas atas amanah UU Terorisme. Sebaliknya, jika penyidik gagal membuktikan keterlibatan tersangka secara materiil dalam sidang, saatnya mengevaluasi kinerja pasukan kebanggaan Polri dan Bangsa Indonesia ini.

Apalagi, kehadiran tim Densus 88 di Medan, 13 September lalu, melahirkan insiden dengan prajurit TNI AU. Berdasarkan surat protes Komandan Pangkalan TNI AU Medan Kolonel Taufik Hidayat, tim Densus terdiri 20 personel, termasuk seorang jenderal bintang tiga, melanggar prosedur penerbangan.

Rombongan Densus memaksa masuk area Delta, Pos Golf Bravo Bandara Polonia yang dijaga prajurit AU, Praka Didik S. Tim itu menolak lewat terminal keberangkatan maupun VIP Room. Atas alasan misi negara, mereka memaksa boarding ke pesawat carter tanpa mengindahkan prosedur yang berlaku.

Kendati berhasil menyergap komplotan yang diduga teroris, insiden Polonia memasuki ambang bahaya. Bagaimana jadinya, jika prajurit TNI AU yang juga bertugas untuk bangsa dan negara bergeming? Pastinya, kita tak memimpikan tembak-menembak antar-kesatuan bersenjata.

Purna kegemilangan tugas, termasuk alasan misi negara, tak boleh mengindahkan etika profesi dan ‘berjudi’ dari kemungkinan bentrokan bersenjata. Tidakkah cukup panjang ‘daftar hitam’ bentrokan bersenjata antara Polri dan TNI selama ini?

Polri dan TNI milik dan betugas demi rakyat, bangsa dan negara. Insiden yang dianggap arogan oleh komandan pangkalan TNI AU itu, harus diusut tuntas. Jangan biarkan insiden berkembang ke friksi, apalagi mencuatkan permusuhan terselubung di antara alat negara bersenjata.

Panglima TNI Jenderal Djoko Santoso harus cepat bertindak. Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri yang berjanji mengklirkan insiden, juga harus cepat. Demikian pula Kepala Staf AU Marsekal Imam Sufaat perlu “memaafkan” dan rendah hati demi hikmah dan soliditas kesatuan bersenjata RI.

Benar adanya, tak satu pun warga bangsa setuju tumbuh-kembangnya terorisme di Tanah Air. Apa pun agama kita juga tak membenarkan aksi terorisme, karena cenderung merenggut nyawa siapa pun, kapan pun dan di mana pun tanpa ada signifikansi kesalahannya.

Mapolsek Hamparan Perak, Deli Serdang Sumatera Utara diserang sekelompok orang bersenjata pada Rabu (22/10) dini hari tadi. Tiga Polisi yang sedang bertugas tewas dalam kejadian itu. Hingga kini belum diketahui siapa para pelaku t indak penyerangan tersebut.

Menurut saksi mata penyerang Mapolsek diperkirakan berjumlah 15 orang dengan menggunakan 5 sepeda motor. Mereka berjalan dengan santai menuju kantor Polsek. Suara letusan senapan terdengar sebanyak belasan kali di dalam Mapolsek. Selain melakukan penembakan, mereka juga membakar sejumlah kendaraan milik Polsek.

Hamparan Perak, Kabupaten Deli Serdang, adalah salah satu wilayah penggerebekan tersangka teroris oleh Densus 88 di Sumut. Dari wilayah itu, Densus berhasil menangkap tiga dari 19 tersangka teroris, yakni Marwan alias Wakno alias Wakgeng (39), Kasman Hadiyono alias Yono (43) dan Surya Saputra.

Kapolda Sumut, Irjen Pol Oegroseno, saat dikonfirmasi membenarkan hal itu. "Kejadiannya pukul 01.00 WIB," kata Oegroseno, Rabu (22/10). Saat ini Polisi sedang melakukan penyelidikan guna mengungkap dari kelompok mana para pelaku penyerangan tersebut.

>

0 comments:

Post a Comment

 
Copyright Blogger Mania © 2010 - All right reserved - Using Blueceria Blogspot Theme
Best viewed with Mozilla, IE, Google Chrome and Opera.
My Zimbio